Validitas Pengukuran Dalam Penelitian Psikologis

Kategori Penelitian Psikologi
validitas pengukuran

Psikodemia.com – Validitas pengukuran (Marliani, 2010) menunjuk pada seberapa jauh suatu alat ukur mengukur apa yang hendak diukur dalam penelitian psikologis. Baltes at al. (1988) dan Friedenberg (1995) menyebutkan adanya empat bentuk validitas, yakni validitas muka (face validity), validitas isi (content validity), validitas empiris (emperical validity), dan validitas konstruk (construct validity).

1. Validitas muka

Validitas muka menunjuk menyatakan bahwa suatu alat ukur tampak mengukur apa yang ingin diukur. Suatu tes aritmatik, misalnya, kurang memiliki validitas muka sebagai tes kosa kata, dan tes kosa kata kata kurang memiliki validitas muka sebagai tes aritmetik.

2. Validitas isi

Suatu alat ukur dikatakan memiliki validitas isi jika alat ukur tersebut berisikan butir-butir yang dapat mewakili domain dari atribut yang diteliti atau diukur. Sebagai contoh, suatu tes kosa kata dikatakan memiliki validitas isi berisikan bu-tir-butir tes yang mengandung semua kosa kata dalam bahasa yang diteliti.

3. Validitas empirik

Validitas empirik memiliki dua macam bentuk, yakni: prediktif dan konkuren (concurrent). Keduanya berhubungan dengan hubungan empirik antara skor hasil pengukuran dengan suatu kriteria tetapi berbeda dalam waktu pengumpulan data kriteria (Ary at al., 1985).

Validitas prediktif menunjuk pada seberapa jauh skor-skor pada suatu alat ukur dapat digunakan untuk memprediksikan skor-skor pada alat ukur yang lain. Validitas ini dapat ditetapkan dengan cara mengkorelasikan dua perangkat skor dari dua perangkat tes. Suatu alat ukur dapat memiliki beberapa macam validitas prediktif; artinya, suatu alat ukur mungkin sangat valid sebagai prediktor dalam beberapa situasi, agak valid sebagai prediktor dalam situasi yang lain; dan kurang valid pada situasi yang lain lagi.

Validitas konkuren berbeda dari validitas prediktif hanya dalam waktu pengukuran. Dalam validitas konkuren, suatu alat ukur diberikan secara simultan, dan dalam validitas prediktif suatu alat ukur yang diprediksikan diberikan setelah alat ukur prediktor.

4. Validitas konstruk

Suatu alat ukur dikatakan memiliki validitas konstruk jika berisikan butir-butir yang merupakan jabaran operasional dari domain atau karakteristik psikologis yang diukur, atau hasil yang diperoleh adalah konsisten dengan yang dipreskripsikan oleh teori yang digunakan sebagai acuan.

Contohnya, suatu teori menyatakan bahwa terdapat suatu hubungan antara beberapa variabel dan beberapa kriteria, misalnya antara inteligensi dan kecepatan dalam belajar. Jika suatu alat ukur dimaksudkan untuk mengukur inteligensi, alat ukur tersebut dikatakan memiliki validitas konstruk jika hasil pengukuran dari alat ukur tersebut dapat memprediksikan kecepatan dalam belajar.

Validitas konstruk pada dasarnya merupakan validitas empirik, tetapi tidak seperti halnya validitas prediktif dan validitas konkuren, validitas konstruk lebih didasarkan pada suatu prediksi yang dinyatakan oleh suatu teori.

Referensi:
  1. Ary, D., Jacobs, L.C., & Razavieh, A. (1985). Introduction to Research in Education. 3rd. ed. New York: Holt, Rinehart, and Winston.
  2. Baltees, P.B., Reese, H.W., & Nesselroads, J.R. (1988). Introduction to Research Methods in Life-span Developmental Psychology. New Jersey: Lawrence Erlbaum Associates, Publishers.
  3. Friedenberg, Lisa. (1995). Psychological Testing. Design, Analysis, and Use. Boston: Allyn and Bacon.
  4. Marliani, Rosleny. (2010). Pengukuran Dalam Penelitian Psikologi. Psympathic, Jurnal Ilmiah Psikologi, Vol. III, No.1: 107 – 120.
Dengan semakin luas dan banyaknya penerapan ilmu psikologi, maka Psikodemia membantu menyediakan materi yang relevan dengan bidang keilmuan psikologi tersebut.