Tahapan Perkembangan Moral Kohlberg

Kategori Psikologi Perkembangan
kohlberg

Psikodemia.com – Lawrence Kohlberg adalah salah satu ilmuwan psikologi yang memberikan sumbangan besar bagi sejarah perkembangan psikologi.  Ia lahir di Bronxville, New York, Amerika Serikat, 25 Oktober 1927  dan meninggal pada usia 59 tahun. Ia menjabat sebagai profesor di Universitas Chicago serta Universitas Harvard. Ia terkenal karena karyanya dalam pendidikan, penalaran, dan perkembangan moral.

Perkembangan Moral Kohlberg

Perkembangan moral didasarkan terutama pada penalaran moral dan perberkembangannya secara bertahap. Kohlberg menggunakan ceritera-ceritera tentang dilema moral dalam penelitiannya, dan ia tertarik pada bagaimana orang-orang akan bertindak  bila berada dalam persoalan moral yang sama. Dilema moral dalam penelitian Kohlberg yang paling populer adalah Dilema Heinz.

Dilema Heinz

Salah satu dilema yang digunakan Kohlberg dalam penelitian awalnya adalah dilema apoteker: Heinz Mencuri Obat di Eropa.

“Di Eropa seorang perempuan hampir meninggal akibat sejenis kanker khusus. Ada satu obat yang menurut dokter dapat menyelamatkannya. Obat tersebut adalah sejenis radium yang baru-baru ini ditemukan oleh seorang apoteker di kota yang sama. Biaya membuat obat ini sangat mahal, tetapi sang apoteker menetapkan harganya 10X lebih mahal dari biaya pembuatan obat tersebut. Untuk pembuatan 1 dosis obat ia membayar $200 dan menjualnya $2.000. Suami pasien perempuan, Heinz pergi ke setiap orang yang ia kenal untuk meminjam uang, tetapi ia hanya dapat mengumpulkan $1.000 atau hanya setengah dari harga obat. Ia memberitahu apoteker bahwa istrinya sedang sakit dan memohon agar apoteker bersedia menjual obatnya lebih murah atau membolehkannya membayar setengahnya kemudian. Tetapi sang apoteker berkata ”Tidak, aku menemukan obat, dan aku harus mendapatkan uang dari obat itu.” Heinz menjadi nekat dan membongkar toko obat itu untuk mencuri obat bagi istrinya.”

Respon dari cerita moral tersebut, yang menjadi dasar bagi Kohlberg menemukan tahapan-tahapan moral dalam tingkatan-tingkatan tertentu. Konsep kunci untuk memahami perkembangan moral, khususnya teori Kohlberg, ialah internalisasi yakni perubahan perkembangan dari perilaku yang dikendalikan secara eksternal menjadi perilaku yang dikendalikan secara internal.

Tahapan Perkembangan Moral Kohlberg

Keenam tahapan perkembangan moral dari Kolhlberg dikelompokkan ke dalam tiga tingkatan, yaitu pra-konvensional, konvensional, dan pasca-konvensional.

1. Pra-Konvensional

Pada tingkat ini, individu tidak memperlihatkan internalisasi nilai-nilai moral. Penalaran moral dikendalikan oleh imbalan (hadiah) dan hukuman eksternal. Dengan kata lain aturan dikontrol oleh orang lain (eksternal) dan tingkah laku yang baik akan mendapat hadiah dan tingkah laku yang buruk mendapatkan hukuman. Ada dua tahap dalam tingkatan pra konvensional, yaitu

Tahap I. Orientasi hukuman dan ketaatan
Pada tahap ini penalaran moral didasarkan atas hukuman dan individu taat karena orang lain menuntut mereka untuk taat.

Tahap II. Individualisme dan tujuan
Pada tahap ini penalaran moral didasarkan atas imbalan (hadiah) dan kepentingan sendiri. Individu taat bila mereka ingin taat dan yang paling baik untuk kepentingan mereka adalah taat. Apa yang benar adalah apa yang dirasakan baik dan apa yang dianggap menghasilkan hadiah.

2. Konvensional

Individu di tahapan ini menilai moralitas dari suatu tindakan dengan membandingkannya dengan pandangan dan harapan masyarakat. Tingkat konvensional terdiri dari tahap ketiga dan keempat dalam perkembangan moral.

Tahap III. Individu memasuki masyarakat dan memiliki peran sosial. Individu mau menerima persetujuan atau ketidaksetujuan dari orang-orang lain karena hal tersebut merefleksikan persetujuan masyarakat terhadap peran yang dimilikinya. Mereka mencoba menjadi seorang anak baik untuk memenuhi harapan tersebut.

Penalaran tahap tiga menilai moralitas dari suatu tindakan dengan mengevaluasi konsekuensinya dalam bentuk hubungan interpersonal, yang mulai menyertakan hal seperti rasa hormat, rasa terimakasih, dan golden rule. Keinginan untuk mematuhi aturan dan otoritas ada hanya untuk membantu peran sosial yang stereotip ini.

Tahap IV. Pada tahap ini penalaran moral didasarkan pada kepatuhan akan hukum, keputusan, dan konvensi sosial karena berguna dalam memelihara fungsi dari masyarakat. Penalaran moral dalam tahap empat lebih dari sekadar kebutuhan akan penerimaan individual seperti dalam tahap tiga tetapi kebutuhan masyarakat harus melebihi kebutuhan pribadi.  Bila seseorang melanggar hukum, maka ia salah secara moral, sehingga celaan menjadi faktor yang signifikan dalam tahap ini karena memisahkan yang buruk dari yang baik. Hukum harus ditaati oleh semua orang.

3. Pasca-Konvensional

Tingkatan pasca konvensional, juga dikenal sebagai tingkat berprinsip, terdiri dari tahap lima dan enam dari perkembangan moral. Kenyataan bahwa individu-individu adalah entitas yang terpisah dari masyarakat kini menjadi semakin jelas. Perspektif seseorang harus dilihat sebelum perspektif masyarakat. Akibat “hakekat diri mendahului orang lain” ini membuat tingkatan pasca-konvensional sering tertukar dengan perilaku pra-konvensional. Pada tahapan ini individu berusaha mendapatkan perumusan nilai-nilai moral dan berusaha merumuskan prinsip-prinsip yang sah.

Tahap V. Pada tahap ini disebut sebagai Keputusan Moral Berdasarkan Hukum atau Legalitas (Sosial contract orientation). Benar salahnya suatu tindakan didasarkan atas hak-hak individu dan norma-norma yang sudah teruji dimasyarakat. Disadari bahwa nilai-nilai yang bersifat relatif, maka perlu ada usaha untuk mencapai suatu konsensus bersama.

Tahap VI. Pada tahap ini sering disebut Kata Hati atau Nurani Menentukan Apa Yang Benar (The universal ethical principle orientation) Benar salahnya tindakan ditentukan oleh keputusan suara nurani hati. Sesuai dengan prinsip prinsip etis yang bersifat abstrak. Pada intinya prinsip etis itu adalah prinsip keadilan, kesamaan hak, hak asasi, hormat pada harkat ( nilai ) manusia sebagai pribadi. individu bertindak karena hal itu benar, dan bukan karena ada maksud pribadi, sesuai harapan, legal, atau sudah disetujui sebelumnya.

Referensi:
  1. Duska, Ronald .1982. Perkembangan Moral: Perkenalan dengan Piaget dan Kohlberg, Terjemahan Dwija Atmaka. Yogyakarta: Kanisius.
  2. Kusdwiratri. 1983. Teori Perkembangan Kognitif. Bandung: Fakultas Psikologi Unpad.
  3. Santrock, J. W. 2010. A topical approach to life-span development (5th ed.). Boston: McGraw-Hill Higher Education.
Dengan semakin luas dan banyaknya penerapan ilmu psikologi, maka Psikodemia membantu menyediakan materi yang relevan dengan bidang keilmuan psikologi tersebut.