Psikosis Dalam Psikologi

Kategori Psikologi Abnormal
psikosis

Psikodemia.com – Psikosis adalah kondisi di mana penderitanya mengalami kesulitan membedakan kenyataan dan imajinasi. Gejala yang muncul pada penderita psikosis berupa delusi atau waham, dan halusinasi. 

Sebagai contoh, penderita psikosis akan memiliki anggapan bahwa dirinya seorang agen rahasia negara namun pada kenyataannya tidak, atau mendengar suara orang berbicara meski tidak ada yang bersuara.

Penanganan psikosis dapat dilakukan dengan pemberian obat dan psikoterapi. Jika tidak ditangani dengan tepat dan segera, kondisi ini dapat berdampak pada kemampuan pasien dalam hidup bersosial.

Gejala Psikosis

Gejala yang muncul pada tiap orang dapat berbeda-beda, tergantung penyebab, usia, dan keparahan kondisi. Seseorang yang mengalami psikosis akan memiliki gejala utama berupa delusi dan halusinasi.

  1. Delusi. Delusi atau waham adalah kondisi di mana seseorang memiliki keyakinan yang kuat dan tidak dapat dipatahkan terhadap sesuatu yang tidak nyata, misalnya mempercayai bahwa dirinya menderita penyakit yang mematikan, meskipun pada kenyataannya kondisi orang tersebut sehat.
  2. Halusinasi. Halusinasi adalah kondisi di mana seseorang mendengar, melihat, merasakan, atau mencium sesuatu yang tidak ada dan tidak dialami orang lain, misalnya mendengar suara orang berbincang ketika dirinya tengah sendirian di suatu tempat.

Pada anak-anak, aktivitas yang menggambarkan perilaku halusinasi, misalnya memiliki teman imajinasi, bukan berarti merupakan gejala psikosis. Hal itu hanya suatu bentuk imajinasi anak-anak, serta merupakan tahapan yang normal dan tergolong wajar.

Selain delusi dan halusinasi, beberapa gejala lain yang dapat muncul ketika seseorang mengalami psikosis, meliputi:

1. Perilaku

Perilaku tidak teratur, agitasi, berperilaku agresif, gelisah, gerakan berulang, isolasi sosial, kewaspadaan berlebihan, menyakiti diri sendiri, pengulangan kata yang tidak jelas, perilaku hiperaktif, sikap tidak ramah, kehilangan pengendalian atau pengulangan kata atau tindakan secara terus-menerus.

2. Kognitif

Gangguan pikiran, kebingungan, disorientasi, hilang ingatan, keinginan bunuh diri, kelambatan dalam aktivitas, keyakinan bahwa kejadian biasa memiliki arti khusus dan pribadi, keyakinan bahwa pikiran bukan milik satu orang, perubahan pola pikir, pikiran yang tidak diinginkan, kesulitan berpikir dan memahami atau merasa superior.

3. Suasana hati

Apati, bersemangat, gugup, kegelisahan, ketidakpuasan umum, marah, merasa terlepas dari diri sendiri, rasa kesepian atau rentang emosi yang terbatas.

4. Psikologis

Ketakutan, mendengar suara-suara, delusi agama, delusi persekutorik, depresi, episode manik, halusinasi visual atau paranoia.

5. Ucapan

Berbicara cepat dan bersemangat, berbicara terlalu panjang, bicara ngawur atau defisiensi ucapan.

6. Umum

Halusinasi perabaan atau mimpi buruk.

Referensi:
  1. Hawari. (2006). Pendekatan Holistik Pada Gangguan Jiwa. Jakarta: FKUI.
  2. Lumbantobing. (2007). Skizofrenia. Jakarta: FKUI.
  3. Maramis. (2005). Catatan Ilmu Kedokteran Jiwa. Surabaya: Airlangga Universitas Press.
Dengan semakin luas dan banyaknya penerapan ilmu psikologi, maka Psikodemia membantu menyediakan materi yang relevan dengan bidang keilmuan psikologi tersebut.