Konsep Diri Dalam Perspektif Budaya

Kategori Psikologi Lintas Budaya
Konsep Diri Dalam Perspektif Budaya

Psikodemia.com – Budaya merupakan semua hal yang diterima seseorang dari komunitasnya (Lowie, 1917). Termasuk didalamnya, nilai-nilai yang diinternalisasi oleh individu kedalam diri mereka, seperti konsep diri.

Konsep Diri

Rogers mendefinisikan konsep diri sebagai bentuk persepsi mengenai diri sendiri yang terorganisir. Konsep diri berkembang melalui identifikasi figur lekat dalam keluarga dan sekolah (Burns, 1993).

Sedangkan konsep diri menurut Fuhrmann (1990) adalah konsep dasar tentang diri sendiri, pikiran dan opini pribadi, kesadaran tentang apa dan siapa dirinya, dan bagaimana perbandingan antara dirinya dengan orang lain serta bagaimana idealisme yang telah dikembangkannya.

Masturah (2017) menjelaskan konsep diri sebagai hubungan antara sikap dan keyakinan serta pandangan yang dimiliki oleh seseorang tentang karakteristik dan ciri-ciri sifat yang dimilikinya yang meliputi dimensi fisiknya, kelemahan yang dimilikinya, kepandaiannya, kegagalannya, motivasi yang dimiliki oleh dirinya, dan lain sebagainya yang merujuk pada harapan- harapannya.

Konsep diri yang sudah terbangun tentunya akan berubah, walaupun kemungkinannya akan sulit. Perubahan biasanya paling mudah terjadi ketika adanya penerimaan dari orang lain, yang membantu seseorang untuk mengurangi kecemasan dan ancaman serta mengakui dan menerima pengalaman-pengalaman yang sebelumnya ditolak (Feist & Feist, 2010).

Individualis dan Kolektivis

Budaya berperan signifikan terhadap pembentukan diri dan identitas. Secara umum, dunia membagi dua kategori komunitas berdasarkan orientasi nilai budayanya, yakni individualis dan kolektivis (Hofstede, 1980). Negara barat memiliki konsep individualis yang berfokus pada kemandirian, sedangkan negara timur memiliki konsep kolektivis dengan arti saling bergantung/terikat (Markus & Kitayama, 1991).

Dibandingkan dengan kelompok individualis, orang-orang dalam kelompok kolektivis memiliki perhatian lebih dalam terhadap nilai-nilai didalam keluarga mereka sebagai komponen yang membentuk konsep dirinya (Fuadhy & Retnowati, 2013).

Kepribadian individu dewasa merupakan cerminan dari pemahaman yang mereka dapatkan tentang diri mereka sendiri, yang disebut oleh Rogers sebagai konsep diri. Konsep diri terbentuk dari masa kanak-kanak hingga akhir masa remaja (Schultz, 1991).

Budaya tidak berakar pada biologi. Artinya, dua orang dari satu ras yang sama akan memiliki kesamaan nilai dan perilaku atau sangat berbeda dalam menampilkan nilai-nilai budaya mereka. Walaupun dua orang tersebut memiliki warisan rasial yang secara umum sama, akan tetapi proses enkulturasi dan sosialisasi kebudayaan yang mereka alami dapat mirip atau berbeda.

Sehingga terlahir dalam ras tertentu tidak berarti mengadopsi budaya yang secara stereotipikal khas ras tersebut. Pemahaman yang sama terkait budaya juga menjelaskan bahwa kebangsaan seseorang tidak menjadi cerminan kebudayaannya (Matsumoto, 2008).

Definisi budaya dalam kaitannya dengan kajian perilaku harus menjelaskan dua hal. Pertama, keberadaan budaya merupakan faktor yang memberikan pengaruh eksternal terhadap individu. Kedua, keberadaan budaya dianggap sebagai bagian dari individu itu sendiri (Dayakisni & Yuniardi, 2012).

Referensi:
  1. Burns, R.B. (1993). Konsep diri, teori, pengukuran, perkembangan dan peilaku, Terjemahan. Jakarta: Arcan.
  2. Fuhrmann, B.S. (1990). Adolescence, Adolescents. Illinois: Scott.
  3. Hofstede, G. (1980). Culture’s consequenses: International differencies in work-related values. Baverly Hills: Sage.
  4. Lowie, R.H. (1917). Culture and ethnology. New York: Douglas C. Mcmurtrie.
  5. Masturah, Alifah Nabilah. (2017). Gambaran Konsep Diri Mahasiswa Ditinjau Dari Perspektif Budaya. Indigenous: Jurnal Ilmiah Psikologi Vol. 2 No. 2.
  6. Markus, H & Kitayama. (1991). Culture and the self: Implications for cognition, emotion and motivation. Psychological Review, 98(2), 224-253.
  7. Watkins, D. & Andres, G. (1997).culture and spontaneous self concept among Filipino collage student. The Journal of Social Psychology, 137(4), 480-488.
Dengan semakin luas dan banyaknya penerapan ilmu psikologi, maka Psikodemia membantu menyediakan materi yang relevan dengan bidang keilmuan psikologi tersebut.