Kepuasan Kerja Dalam Psikologi Industri Organisasi

Kategori Psikologi Industri
kepuasan kerja

Psikodemia.com – Kepuasan kerja dan mengorganisasikan komitmen adalah sesuatu yang dipelajari oleh psikolog dan hal ini dapat mengetahui bagaimana sikap daripada karyawan.

Ada tiga aspek untuk mengorganiasikan komitmen karyawan yaitu:

  1. Komitmen afektif.
  2. Komitmen lanjutan
  3. Komitmen normatif.

Sementara itu, terdapat 4 perbedaan individu yang mempengaruhi kepuasan bekerja yaitu (1) kecenderungan genetik, (2) evaluasi inti diri, (3) budaya dan (4) intelegensi.

Kepuasan kerja karyawan

Kepuasan kerja dan kepuasan dalam kehidupan karyawan berbanding lurus, jika karyawan merasa puas pada pekerjaannya artinya mereka juga puas dalam kehidupan mereka.

Karyawan yang merasa cocok dengan organisasi, pekerjaan, rekan kerja, dan atasannya cenderung lebih puas dengan pekerjaan mereka, mengidentifikasi diri dengan organisasi, bertahan di organisasi, performa yang lebih baik, dan menjadi bagian dari perilaku organisasi.

Juga, menikmati pekerjaan, hubungan karyawan dengan atasan maupun rekan kerja yang baik, dan persepsi karyawan mengenai perlakuan yang adil terhadap penghargaan, akan mempengaruhi tingkat kepuasan yang dirasakan oleh karyawan.

Harapan karyawan akan terpenuhi dimana jika harapan dan realitas itu sama sama dipenuhi.

Kepuasan karyawan ditilik dari teori Psikologi

Surrette dan Harlow (1992) menemukan bahwa orang akan sangat puas dengan pekerjaan jika mereka memiliki pilihan untuk dipilih dari alternatif pilihan lain daripada hanya memiliki satu pilihan.

Kemudian menurut teori discrepancy, karyawan akan tetap puas dengan pekerjaan mereka jika pekerjaan memenuhi berbagai kebutuhan, keinginan, harapan, dan nilai. Karena individu sangat bervariasi dalam kebutuhan mereka untuk hal-hal seperti pencapaian, status, keamanan, dan kontak sosial.

Sedangkan teori kepuasan intrinsik dan teori karakteristik pekerjaan menyatakan karyawan akan semakin puas dengan pekerjaan jika tugasnya menyenangkan untuk dilakukan. Tingkat kepuasan kerja atau komitmen karyawan diukur melalui inventarisasi komitmen standar.

Solusi ketidakpuasan karyawan

Ketika karyawan tidak puas atau tidak difungsikan dalam organisasi, mereka lebih mungkin untuk meninggalkan pekerjaan. Namun ada beberapa hal yang dapat dilakukan untuk mengatasi hal ini, misalnya:

  1. Absensi dapat ditingkatkan dengan beberapa cara yakni menghadiahi kehadiran, mendisiplinkan absensi, dan menjaga catatan kehadiran yang akurat.
  2. Kehadiran dapat ditingkatkan melalui penggunaan program pengakuan seperti memberikan penghargaan, pujian, gaji yang lebih, cuti tahunan dan pemberian umpan balik.

Konsekuensi dari ketidakpuasan dan sikap kerja negatif karyawan adalah kemangkiran, turnover, perilaku kontraproduktif, kurangnya perilaku organisasi kewarganegaraan.

Referensi:
  1. Fraser, T.M, 1983. Stress dan Kepuasan Kerja. Jakarta: Pustaka Binaman Presindo.
  2. Rosyid,H.F., Dwiatmoko,E., dan Fauzia,P. 2000. KOGNISI. Vol 4 No 2.hal 21- 28.
  3. Sukanto. 1995. Hubungan antara Stres Kerja dengan Kepuasan Kerja Karyawan. Skripsi (tidak diterbitkan). Surakarta: Fakultas Psikologi UMS
  4. Surrette, M.A., & Harlow, L.L. (1992). Level of Satisfaction and Commitment to a Decisional Choice as Mediated by Locus of Control. Applied H. R. M. Research, 3(2), 92-113.
Dengan semakin luas dan banyaknya penerapan ilmu psikologi, maka Psikodemia membantu menyediakan materi yang relevan dengan bidang keilmuan psikologi tersebut.