Asertivitas Pada Remaja

Kategori Psikologi Perkembangan
Asertivitas

Psikodemia.com – Asertivitas merupakan suatu potensi yang dimiliki individu untuk menyatakan diri secara terus terang tanpa adanya kecemasan atas reaksi orang lain.

Alberti dan Emmons (2002) mendefinisikan asertivitas sebagai pernyataan diri yang positif yang menunjukan sikap menghargai orang lain. Asertivitas juga dapat diartikan sebagai perilaku yang mempromosikan kesetaraan dalam hubungan manusia yang memungkinkan setiap individu untuk bertindak menurut kepentingannya sendiri, membela diri tanpa kecemasan, mengekspresikan perasaan dengan jujur dan nyaman, dan menerapkan hak-hak pribadi tanpa mengabaikan hak-hak orang lain.

Sikap asertif salah satunya dapat ditunjukkan dengan kemampuan untuk berkata “tidak” dengan tegas.

Tiap individu memiliki tingkat asertivitas yang tidak sama dalam menghadapi suatu kondisi. Asertivitas individu dipengaruhi oleh berbagai faktor, salah satunya adalah kebudayaan. Oleh karena itu budaya dan lingkungan yang ada di sekitar individu akan sangat berpengaruh terhadap perkembangan asertivitasnya.

Perilaku yang dikatakan asertif pada lingkungan budaya tertentu belum tentu sama pada budaya lain. Setiap budaya mempunyai etika dan aturan sosial tersendiri (Alberti dan Emmons, 2002). Maran (2000) menambahkan bahwa kebudayaan sebagai suatu cara hidup bersama, cara khas manusia dalam menyesuaikan diri dengan lingkungan alam dan merupakan strategi manusia dalam memenuhi kebutuhan-kebutuhan hidupnya.

Remaja Dan Asertivitas

Masa remaja adalah masa dimana seorang anak memiliki keinginan untuk mengetahui berbagai macam hal serta ingin memiliki kebebasan dalam menentukan apa yang ingin dilakukannya. Hal ini sesuai dengan salah satu tugas perkembangan masa remaja yang berhubungan dengan penyesuaian sosial. Remaja harus mampu bersikap tegas dalam menyatakan pendapat atau pikirannya terhadap orang lain tanpa kehilangan rasa percaya diri (Fensterheim dan Baer, 2005).

Namun pada kenyataannya masih banyak remaja yang mengalami kesulitan dalam berinteraksi dan berkomunikasi dengan orang lain. Lemah dalam berkomunikasi dan gagal dalam mengungkapkan pendapat akan membuat individu tersebut merasa tertekan dan menimbulkan masalah dalam berhubungan sosial dengan orang lain.

Banyak remaja yang melakukan hal-hal yang akhirnya mempengaruhi masa depan dan jalan hidupnya hanya karena terbawa pengaruh teman dan lingkungan. Oleh karena itu remaja cenderung enggan bersikap asertif untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan yaitu adanya rasa takut apabila nantinya dijauhi oleh teman-teman atau kelompoknya.

Permasalahan yang terjadi saat ini banyak remaja yang mengalami hambatan dalam perkembangan perilaku asertif, baik dalam hubungan sosial, keluarga dan sekolahnya.

Penelitian yang dilakukan oleh Setiono dan Pramadi (2005) mengemukakan bahwa permasalahan yang sering menjadi keluhan tenaga pengajar adalah kurangnya keberanian siswa untuk mengemukakan pendapat di dalam kelas, kurangnya keaktifan dan inisiatif dalam kegiatan ekstra kurikuler di sekolah.

Referensi:
  1. Alberti, R. dan Emmons, M. 2002. Your Perfect Right. Penerjemah Buditjahya. Jakarta: PT.Elex Media Komputindo.
  2. Fensterheim, H. dan Baer, J. 2005.Jangan Bilang Ya Bila Anda Akan Mengatakannya Tidak.Alih bahasa Buditjahya.Jakarta: Gunung Jati.
  3. Maran, R.R. 2000.Manusia & Kebudayaan Dalam Perspektif Ilmu Budaya Dasar. Jakarta: PT. Rineka Cipta.
  4. Setiono, V. dan Pramadi, A. 2005.Pelatihan Asertivitas dan Peningkatan Asertif pada Siswa-Siswi SMP.Anima Indonesian Psychology Journal, Vol. 20, No. 2, Hal.149-168.
Dengan semakin luas dan banyaknya penerapan ilmu psikologi, maka Psikodemia membantu menyediakan materi yang relevan dengan bidang keilmuan psikologi tersebut.