Diperbarui Pada

Wawancara Dalam Psikologi Klinis

Kategori Psikologi Klinis, Psikologi Umum
Wawancara dalam psikologi klinis

Psikodemia.com – Wawancara menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah (1) tanya jawab dengan seseorang (pejabat dan sebagainya) yang diperlukan untuk dimintai keterangan atau pendapatnya mengenai suatu hal, untuk dimuat dalam surat kabar, disiarkan melalui radio, atau ditayangkan pada layar televisi; (2) tanya jawab direksi (kepala personalia, kepala humas) perusahaan dengan pelamar pekerjaan; (3) tanya jawab peneliti dengan narasumber.

Kata wawancara identik dengan tanya jawab untuk mendapatkan informasi dari sumber tertentu.

Wawancara dalam psikologi klinis digunakan sebagai salah satu metode asesmen untuk mendapatkan informasi tentang diri individu/klien.

Dalam asesmen klinis wawancara tidak dapat berdiri sendiri, sehingga digunakan bersama dengan metode lain, seperti observasi dan tes psikologi untuk mendapatkan data yang akurat.

Wawancara merupakan sarana utama untuk mengeksplorasi perasaan, kesadaran dan masalah yang dihadapi klien.

Wawancara menghasilkan informasi tentang situasi kehidupan, berbagai hubungan dengan orang lain yang bermakna, prestasi dan kegagalan, hal-hal yang membahagiakan dan yang membuat frustrasi, serta nilai-nilai, harapan-harapan, ketakutan-ketakutan dalam hidup.

Pernyataan klien tergantung pada kenyataan yang dialaminya selama dalam situasi klinis, dalam arti mengenai harapan dan persepsi klien terhadap hubungan klinis tersebut (Fakhrurrozi, 2018).

Sumber data dalam wawancara adalah:

  • Pernyataan klien yaitu mendiskripsikan karakteristik perasaan dan masa lalunya.
  • Perilaku yang menyertainya, biasanya tidak disengaja dan tidak disadari, seperti suara yang bergetar, tangan yang dikepalkan (observasi selama wawancara)
  • Reaksi-reaksi yang disebabkan karena stimulus dari

Terdapat tiga tipe wawancara dalam psikologi klinis, yaitu

  1. Intake Interveiw,

Wawancara yang bertujuan untuk mempertemukan kebutuhan klien dan pelayanan yang dapat disediakan. Dalam wawancara tipe ini, psikolog dapat menentukan wilayah permasalahan yang dianggap klien memberatkan (motivasi) klien untuk datang berkonsultasi, meluruskan kemungkinan salah persepsi dan salah harap klien dari pelayanan yang disediakan.

  1. Diagnostick Interview, 

Wawancara ini dimaksudkan untuk mencari tanda-tanda melalui penalaran deduktif, membuat kesimpulan, sampai pada pembuatan penyimpulan tentatif, yang secara keseluruhannya dapat digolongkan ke dalam label diagnostika.

Menurut Stavenson dan Shepp, 1974, melalui wawancara ini pewancara berupaya untuk pengungkap data yang dapat diduga menampilkan

  • Tanda dan simtom gangguan yang termasuk psikiatrik, seperti skizofrenia.
  • Faktor-faaktor psikologis yang mungkin sebagai penyebab gangguan saat ini, misalnya stress yang berkaitan denagn timbulnya gangguan lambung.
  • Reaksi-reaksi terhadap gangguan yang dapat mengganngu kooperasi klien melaksanakan program penanganan
  1. Crisis Interview

Wawancara yang bersifat interaksi action-oriented dan pemecahan masalah, psikolog sebagai sebagai narasumber, bertindak mengembangkan proses dan memudahkan tumbuhnya ketrampilan klien untuk menaggulangi situasi.

Ciri dari Crisis Interview dilaksanakan dengan cepat dan berpusat pada pemecahan masalah dengan segera sekarang dan di sini (here and now resoloving).

Referensi: Pengantar Psikologi Klinis. Suprapti Slamet-Sumarmo Markam. Penerbit Universitas Indonesia. 2003; Diktat Kuliah Asesmen dalam Psikologi Klinis. M. Universitas Gunadarma. 2018.

Dengan semakin luas dan banyaknya penerapan ilmu psikologi, maka Psikodemia membantu menyediakan materi yang relevan dengan bidang keilmuan psikologi tersebut.