Transmisi Budaya Dalam Psikologi Lintas Budaya

Kategori Psikologi Lintas Budaya
Transmisi Budaya

Psikodemia.com – Transmisi budaya adalah kegiatan pengiriman atau penyebaran pesan dari generasi yang satu ke generasi yang lain tentang sesuatu yang sudah menjadi kebiasaan dan sulit diubah.

Transmisi budaya merupakan suatu upaya atau proses dalam menyampaikan sikap, keyakinan, nilai-nilai, pengetahuan dan juga ketrampilan dari suatu generasi kepada generasi selanjutnya, sehingga budaya tersebut dapat tetap dipertahankan nilai-nilainya.

Fungsi Transmisi Budaya dalam Psikologi Lintas Budaya

Fungsi transmisi budaya dapat dibedakan menjadi dua macam, yaitu:

(1) Transmisi pengetahuan dan ketrampilan,

Transmisi pengetahuan mencakup pengetahuan tentang bahasa, sistem matematika, pengetahuan alam dan sosial, dan penemuan-penemuan teknologi. sebagai contoh proses pembelajaran di sekolah atau bagaimana anak belajar memperbaiki sepeda dari ayah/kakeknya.

(2) Transmisi sikap, nilai-nilai dan norma-norma.

Transmisi sikap, nilai-nilai dan norma mencakup bagaimana pola hidup antar generasi, sebagai contoh anak yang mencium tangan orangtua atau makan setelah dipersilakan.

Fokus Transmisi Budaya dalam Psikologi Lintas Budaya

Transmisi budaya memiliki fokus dan konsentrisitas pada tiga misi, yaitu:

  • Menanamkan (juga menggagas, mengkreasi, apabila publik belum memiliki bibit dan potensi keunggulan);
  • Mengembangkan (dengan inovasi dan adaptasi, apabila masyarakat telah memiliki benih-benih keunggulan yang kemudian diperluas dan ditingkatkan); dan
  • Memantapkan (juga melestarikan dan konservasi, apabila masyarakat telah mengembangkan tradisi keunggulan secara padu dan bersama).

Bentuk Transmisi Budaya dalam Psikologi Lintas Budaya

Terdapat 3 bentuk transmisi budaya, yaitu :

(1) Enkulturasi

Enkulturasi mengacu pada proses dimana suatu budaya ditransmisikan dari satu generasi ke generasi berikutnya atau proses pembelajaran kebudayaan (Soekanto, 1993). Budaya ditransmisikan melalui proses belajar, bukan melalui gen.

Budaya tersebut dipelajari, bukan diwarisi. Orang tua, kelompok, teman, sekolah, lembaga keagamaan, dan lembaga pemerintahan merupakan guru-guru utama dalam proses ini

Enkulturasi mempengaruhi perkembangan psikologi individu melalui proses belajar dan penyesuaian alam pikiran dan sikap individu dengan sistem norma, adat, dan peraturan-peraturan yang hidup dalam kebudayaannya seperti motivasi, sikapnya terhadap dirinya sendiri maupun terhadap orang terdekatnya, proses perolehan keterampilan bertingkah laku, serta proses penyesuain dan penerimaan diri berdasarkan latar belakang budayanya.

Contoh: Seorang anak belajar menjadi atlet dengan disiplin waktu dari orangtuanya yang mantan atlet, atau seorang anak yang diajarkan bagaimana caranya bersopan santun oleh orang tuanya.

(2) Akulturasi

Akulturasi mengacu pada proses dimana budaya seseorang dimodifikasi melalui kontak atau pemaparan langsung dengan budaya lain.

Misalnya, budaya pendatang yang dipengaruhi oleh budaya tuan rumah. Secara berangsur-angsur; nilai, cara berperilaku, serta kepercayaan dari budaya tuan rumah akan menjadi bagian dari kultur kelompok pendatang. Pada waktu yang sama, budaya tuan rumah pun ikut berubah.

Akulturasi mempengaruhi perkembangan psikologi individu melalui suatu proses sosial yang timbul manakala suatu kelompok manusia dengan kebudayaan tertentu dihadapkan dengan unsur dari suatu kebudayaan asing. Akulturasi terjadi karena sekelompok orang asing yang berangsur-angsur mengikuti cara atau peraturan di dalam lingkup budaya tuan rumah.

Contoh: Seseorang yang baru pindah ke tempat baru, maka ia akan mempelajari bahasa, budaya, dan kebiasaan dari masyarakat ditempat baru tersebut, lalu ia akan berbahasa dan berbudaya, serta melakukan kebiasaan sebagaimana masyarakat itu

(3) Sosialisasi

Sosialisai adalah sebuah proses penanaman kebiasaan atau nilai dan aturan dari satu generasi ke generasi lainnya dalam sebuah kelompok atau masyarakat.

Dalam sosialisasi terdapat proses belajar dan menginternalisasi aturan-aturan dan pola-pola yang ada di masyarakat dimana kita tinggal. Proses ini terjadi sepanjang waktu meliputi pembelajaran norma-norma sosial, sikap-sikap, nilai-nilai, dan sistem kepercayaan. Proses sosialisasi dimulai lebih awal, kemungkinan dari hari pertama kehidupan manusia (Matsumoto dan Juang, 2008).

Kehidupan anak dalam menelusuri perkembangnya itu pada dasarnya merupakan kemampuan mereka berinteraksi dengan lingkungan. Pada proses integrasi dan interaksi ini faktor intelektual dan emosional mengambil peranan penting. Proses tersebut merupakan proses sosialisasi yang mendudukkan anak-anak sebagai insan yang yang secara aktif melakukan proses sosialisasi.

Terdapat sedikit perbedaan antara pengertian enkulturasi dan sosialisasi menurut Matsumoto dan Juang. Sosialisasi lebih kepada proses dan mekanisme dimana orang-orang mempelajari aturan-aturan masyarakat. Sedangkan enkulturasi lebih kepada produk/hasil dari proses sosialisasi tersebut, yang bersifat subjektif, pokok yang mendasari, dan aspek-aspek psikologis dari budaya yang kemudian terinternalisasi seiring dengan perkembangan (Matsumoto dan Juang, 2008).

Referensi:
  1. Matsumoto, David dan Linda Juang. 2008. Culture and Psychology. USA: Wadsworth
  2. Manan, Imran, Ph. D. 1989. Antropologi Pendidikan: Suatu Pengantar. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi
  3. Soekanto, Soerjono. 1982. Sosiologi Suatu Pengantar. Jakarta: Raja Grafindo Persada
Dengan semakin luas dan banyaknya penerapan ilmu psikologi, maka Psikodemia membantu menyediakan materi yang relevan dengan bidang keilmuan psikologi tersebut.