Diperbarui Pada

Teknik Relaksasi Dalam Olahraga

Kategori Psikologi Olahraga
teknik relaksasi

Psikodemia.com – Teknik relaksasi pertama kali dikembangkan oleh Edmund Jacobsen pada awal tahun 1930-an. Jacobsen mengemukakan bahwa seseorang yang sedang berada dalam keadaan relaks tidak akan memperlihatkan respons emosional seperti terkejut terhadap suara keras.

Pada tahun 1938, Jacobsen merancang suatu teknik relaksasi yang kemudian menjadi awal munculnya Latihan Relaksasi progresif (Progressive Relaxation Training).

Dengan latihan relaksasi, Jacobsen percaya bahwa seseorang dapat diubah menjadi relaks pada otot-ototnya.

Sekaligus juga, latihan ini mengurangi reaksi emosi yang bergelora, baik pada sistem saraf pusat maupun pada sistem saraf otonom.

Latihan relaksasi memberikan efek segar dan sehat. Pada latihan relaksasi, perasaan tegang berubah menjadi kondisi santai, sehingga meningkatkan kesehatan.

Latihan relaksasi ini banyak diterapkan dalam bidang olahraga khsususnya untuk meningkatkan fokus seorang atlet. Karena kebutuhan akan waktu pengerjaan yang cepat, para ahli kemudian berupaya keras untuk mencari modifikasi agar latihan relaksasi progresif dapat dilakukan dalam format yang lebih pendek dan praktis.

Dengan teknik relaksasi yang tepat, Atlet dapat merasakan relaks, baik secara emosi ataupun fisik.

Hasil modifikasi tersebut menghasilkan teknik yang lebih ringan yang dikenal dengan teknik pernapasan atau breathing technique.

Teknik ini banyak dilakukan oleh para atlet karena dapat dilakukan di berbagai lokasi, misalnya di pinggir arena pertandingan, saat menunggu waktu untuk bermain, atau ketika berada di ruang ganti.

Teknik ini juga dapat dilakukan ketika gejolak emosi sedang memuncak, misalnya pada malam sebelum pertandingan, atau beberapa jam sebelum pertandingan.

Gejolak emosi berupa kecemasan yang sering dirasakan para atlet saat menghadapi kompetisi olahraga berdampak pada sulit berkonsentrasi, otot terasa tegang, dan takut mengecewakan orang-orang terdekat.

Teknik intervensi yaitu dengan mengolah nafas dan pemusatan pikiran yang diberi nama teknik relaksasi pernafasan.

Salah satu penelitian eksperimen yang telah dilakukan untuk mengetahui efektifitas teknik relaksasi pernafasan adalah melalui penelitian dalam mengurangi kecemasan atlet futsal yang hendak bertanding.

Subjek penelitian adalah atlet Batman F.C dan Mustika F.C yang hendak bertanding dalam turnamen BINPORA yang keseluruhan berjumlah 22 subjek.

Subjek dibagi menjadi dua kelompok yaitu kelompok eksperimen dan kelompok kontrol menggunakan teknik unrandomized.

Penelitian tersebut menggunakan desain eksperimen pretest-posttest control group. 

Data penelitian diambil menggunakan skala SAS-2 yang merupakan skala kecemasan atlet yang baku dan telah disempurnakan. SAS-2 terdiri dari 15 item dan validitasnya diukur dengan menggunakan profesional judgement dari para ahli psikologi olahraga serta dosen pembimbing dan koefisien alpha cronbach  reliabilitasnya 0,822.

Metode analisis data yang digunakan adalah teknik Wilcoxon Mann-Whitney U-Test.

Berdasarkan teknik analisis tersebut, diperoleh nilai p= 0,005 pada pretest dan posttest kelompok eksperimen dengan taraf signifikansi atau p< 0,05.

Hal ini menunjukkan bahwa ada perbedaan antara pretest dan post-test pada kelompok eksperimen yang berarti bahwa teknik relaksasi pernafasan efektif untuk mengurangi kecemasan atlet futsal yang hendak bertanding.

Hasil penelitian memberikan masukan bagi atlet futsal Batman F.C dan Mustika F.C untuk dapat mengurangi kecemasannya sebelum menghadapi pertandingan, dengan melakukan teknik relaksasi pernafasan agar dapat bermain dengan maksimal dan dapat mengeluarkan potensi terbaiknya.

Menurut Masters, et.al (1987) (dalam Gunarsa, S.D., 2002), manfaat dari melakukan latihan relaksasi adalah

  1. Meningkatnya pemahaman mengenai ketegangan otot dan gejolak emosi berpengaruh terhadap ketegangan otot dan sebaliknya.
  2. Meningkatnya kemampuan untuk mengendalikan ketegangan otot.
  3. Meningkatnya kemampuan untuk memusatkan perhatian terhadap suatu objek
  4. Meningkatnya kemampuan untuk melakukan kegiatan.
  5. Menurunnya ketegangan otot.
  6. Menurunnya gejolak emosi karena pengaruh perubahan kondisi tubuh.
  7. Menurunnya tingkat kecemasan, serta emosi-emosi negatif lainnya.
  8. Menurunnya kekhawatiran dan ketakutan.
Referensi:
    1. Carlson, N. R., 1994, Physiology of Behavior, 5th edition. Boston: Allyn & Bacon
    2. Gunarsa, S.D. & Gunarsa, Y.S.D. (1991). Psikologi Perkembangan Anak dan
      Remaja. Jakarta: Gunung Mulia.
    3. Ikromi Zufri Ekawaldi, Liftiah Liftiah Liftiah. Efektifitas Teknik Relaksasi Pernafasan untuk Mengurangi Kecemasan Atlet Futsal yang Hendak Bertanding. Jurnal Psikologi Ilmiah, Vol 6, No 1 (2014).
    4. Purwandari. (2009). Pengaruh terapi latihan terhadap penurunan nilai nyeri pada pasien post sectio caesarea. Skripsi, Universitas Muhammadiyah Surakarta.
Dengan semakin luas dan banyaknya penerapan ilmu psikologi, maka Psikodemia membantu menyediakan materi yang relevan dengan bidang keilmuan psikologi tersebut.