Terapi Desensitisasi Sistematik (Systematic Desensitization Therapy)

Kategori Terapi
Systematic Desensitization Therapy

Psikodemia.com – Systematic desensitization therapy adalah salah satu jenis terapi yang menggunakan prinsip classical conditioning.

Terapi ini memiliki strategi intervensi yang kompleks dan praktis, yang telah digunakan selama beberapa dekade. Di dalam prosesnya, systematic desensitization therapy menggunakan latihan relaksasi, pengembangan hierarki kecemasan, serta pemaparan bertingkat (Merrell, 2013).

Systematic Desensitization Therapy merupakan sebuah prosedur di mana klien diekspos secara berkala kepada objek yang ditakuti dan diikuti dengan latihan relaksasi progresif bisa kecemasan klien meningkat ketika melihat objek tersebut.

Terapi ini efektif diaplikasikan pada klien dengan gangguan kecemasan, fobia dengan stimuli spesifik seperti hewan, serangga, air, pesawat terbang, ataupun ruang tertutup (O’Donohue, Fisher, dan Hayes, 2004).

Prinsip yang digunakan dalam teknik ini adalah menghambat ekspresi rasa takut klien dengan mendorongnya menghadapi stimulus yang dikondisikan, yaitu hal yang ditakuti atau dicemaskan secara berangsur-angsur. Sehingga diharapkan menghilangkan respon yang tidak diinginkan, seperti respon ketakutan karena fobia. ,

Teknik Terapi Systematic Desensitization Therapy menjadi treatment yang efektif dan efisien untuk klien dengan fobia.

Terapi ini secara besar memiliki tiga fase utama:

  1. Pertama, klien diajarkan teknik relaksasi otot (deep muscle relaxation) dan latihan pernapasan. Tahap ini sangat penting karena rasa cemas atau takut identik diikuti dengan ketegangan dan ketegangan yang berbanding terbalik dengan relaksasi, sehingga harus diajarkan utuk menjadikannya sebagai ketrampilan.
  2. Kedua, klien menciptakan hierarki rasa takut dimulai dengan stimuli yang menimbulkan kecemasan (rasa takut) paling kecil dan terus berlanjut hingga tahap stimuli yang paling menimbulkan rasa takut.
  3. Ketiga, klien mempraktekkan teknik relaksasi ketika dihadapkan dengan stimuli yang tidak diinginkan, dimulai dari yang ringan hingga yang paling ditakutkan. Ketika klien merasa nyaman atau tidak takut lagi dengan stimuli tersebut, klien kemudian melanjutkan ke tahap berikutnya, tahap yang lebih berat. Apabila klien menjadi jengkel atau tidak nyaman, ia dapat kembali ke tahap sebelumnya dan melakukan relaksasi lagi.

Klien terus dihadapkan dengan situasi yang ditakutkan hingga kecemasan tidak muncul lagi, dengan tetap disertai dengan penggunaaan relaksasi. Jika kecemasan tidak muncul lagi, maka dapat dikatakan bahwa terapi tersebut berhasil.

Referensi
  1. Merrell, Kenneth W. (2013). Helping Students Overcome Depression and Anxiety, Second Edition: A Practical Guide. New York: Guilford Publications.
  2. Spielberger, Charles Donald. (2004). Encyclopedia of Applied Psychology: A-E, Volume 1. Cambridge: Academic Press.
  3. O’Donohue, William T., Jane E. Fisher, dan Steven C. Hayes. (2004). Cognitive Behavior Therapy: Applying Empirically Supported Techniques in Your Practice. New Jersey: John Wiley & Sons.
Dengan semakin luas dan banyaknya penerapan ilmu psikologi, maka Psikodemia membantu menyediakan materi yang relevan dengan bidang keilmuan psikologi tersebut.