Diperbarui Pada

Strategi Pengendalian Diri Atlet dalam Olahraga

Kategori Psikologi Olahraga
pengendalian diri Atlet

Psikodemia.com – Atlet membutuhkan pengendalian diri yang baik dalam bertanding maupun latihan. Pengendalian diri Atlet digunakan untuk mengatasi kecemasan (anxiety), stres dan lain sebagainya yang dapat mengganggu performa Atlet.

Dalam upaya pengendalian diri Atlet tersebut, ada beberapa strategi yang bisa dijadikan sebagai solusi, yaitu:

  1. Strategi Relaksasi.
  2. Strategi kognitif.
  3. Teknik-teknik peredaan ketegangan.
  4. Teknik mekanisme pertahanan diri.

(1) Strategi Relaksasi sebagai strategi pengendalian diri Atlet

Keadaan relaks adalah keadaan saat seorang atlet berada dalam kondisi emosi yang tenang, yaitu tidak bergelora atau tegang.

Keadaan tidak bergelora tidak berarti merendahnya gairah untuk bermain, melainkan dapat diatur atau dikendalikan.

Untuk dapat mencapai keadaan ini, ada dua prosedur yang dapat digunakan, yaitu (1) Prosedur Aktif yang artinya kegiatan dilakukan sendiri secara aktif.

Dan (2) Prosedur Pasif, yang berarti seseorang dapat mengendalikan munculnya emosi yang bergelora, atau dikenal sebagai latihan autogenik.

Teknik autogenik dapat melatih seseorang untuk melakukan sugesti diri, yaitu mengubah kondisi faal tubuh untuk mengendalikan munculnya emosi yang terlalu bergelora. Sehingga ia dapat mengatur dan mengendalikan pemunculan emosinya pada tingkatan yang dikehendaki.

(2) Strategi Kognitif sebagai strategi pengendalian diri Atlet

Strategi kognitif didasari oleh pendekatan kognitif yang menekankan bahwa pikiran atau proses berpikir merupakan sumber kekuatan yang ada dalam diri seseorang.

Kesalahan, kegagalan, ataupun kekecewaan, tidak disebabkan oleh objek dari luar, namun bersumber pada inti pikiran atau proses berpikir seseorang.

Salah satu kegiatan yang mendukung berfungsinya proses kognitif adalah kegiatan pemusatan perhatian yang bersumber pada inti pikiran seseorang. Contohnya, pemikiran sebagai berikut: “Saya memusatkan perhatian terhadap kormitmen saya untuk bermain sesuai dengan apa yang sudah saya latih dan strategi bermain saya.”

Kegiatan ini merupakan kegiatan menginstruksi diri sendiri (self-instruction), sehingga apa pun yang akan terjadi dalam permainan, atlet akan berpedoman pada proses berpikirnya.

(3) Teknik-teknik peredaan ketegangan bagi Atlet

Hanya mengetahui apa yang menyebabkan atlet tegang atau takut tanpa mengetahui bagaimana cara mengatasinya, tidaklah banyak manfaatnya dan tidak akan membantu Atlet fokus dan tenang.

Pelatih diharuskan memiliki keterampilan bagaimana cara meredakan ketegangan yang ada pada atlet. Ada beberapa teknik yang bisa membantu menurunkan atau mengurangi ketegangan atlet, diantaranya:

  1. Teknik Jacobson dan Schultz, yaitu dengan mengurangi arti pentingnya pertandingan dalam benak atlet, atau mengurangi ancaman hukuman kalau atlet gagal.
  2. Teknik Cratty, yaitu dengan menyusun suatu urutan (hierarki) kecemasan yang dialami atlet. Atlet dihadapkan pada kondisi yang membuatnya cemas, dari yang paling berat hingga yang paling ringan.
  3. Teknik progressive muscle relaxation dari Jacobson, yaitu latihan memaksa otot-otot yang tegang dijadikan relaks.
  4. Teknik autogenic relaxation, yaitu teknik relaksasi yang menekankan pada sugesti diri (self-suggestion).
  5. Latihan pernapasan dalam (deep breathing), seperti meditasi.
  6. Berpikir positif, yaitu menciptakan pikiran positif untuk memberikan motivasi, fokus dan ketenangan.
  7. Visualisasi, yaitu menciptakan gambaran visual mengenai kondisi yang ingin dicapai.
  8. Latihan simulasi, yaitu dengan menciptakan situasi latihan seakan-akan sedang betul¬betul bertanding, untuk menempatkan atlet mengalami stres fisik maupun mental. Dengan berulang kali berlatih dengan stres yang tinggi, diharapkan lama-kelamaan ketegangan atlet akan berkurang pada waktu menghadapi stres.

(4) Teknik Mekanisme Pertahanan diri 

Kecemasan, kekhawatiran, dan ketakutan yang berkecamuk dalam diri atlet adalah gejala yang umum dalam olahraga.

Seringkali, sebagai bentuk mekanisme pertahanan diri, baik atlet maupun pelatih, membuat alasan irasional untuk atas kondisi yang mereka hadapi. Seperti penyebab kegagalan yang  dilimpahkan kepada orang, benda lain, atau kondisi lain di luar dirinya.

Dan hal tersebut bukanlah mekanisme pertahanan diri yang membangun.

Sebab-sebab dari setiap kegagalan haruslah didiskusikan, dievaluasi, dianalisis secara rasional, intelektual dan inteligen.

Pelatih harus mengajarkan dan mendidik atlet agar tidak meremehkan kegagalan, dan menilai setiap kegagalan dengan penuh pemahaman dan pengertian yang wajar.

Dengan demikian dapatlah diharapkan pula bahwa mental para Atlet sedikit demi sedikit dapat dikembangkan.

Referensi
  1.  Danu Hoedaya (2007). “Psikologi Olahraga : Tinjauan Dari Perspektif Keilmuan Dan Aplikasi Dalam Olahraga Prestasi.
  2. D. Gunarsa, Singgih (1989). Psikologi Olahraga. BPK Gunung Mulia.
  3. Yunus, Mahmud. Drs,. 1991.Psikologi Olahraga. Fakultas Ilmu Pendidikan: Malang.
  4. Petrie, T. A., & Diehl, N. S. (1995). Sport psychology in the profession of psychology. Professional Psychology: Research and Practice. 
Dengan semakin luas dan banyaknya penerapan ilmu psikologi, maka Psikodemia membantu menyediakan materi yang relevan dengan bidang keilmuan psikologi tersebut.