sejarah psikologi lintas budaya

Psikodemia.com – Sejarah Psikologi Lintas Budaya dimulai pada masa abad pertengahan (abad ke 15) dan ke 16. Pada masa itu masyarakat di Eropa menaruh perhatian pada nilai-nilai luhur kemanusiaan.

Kebebasan (freedom), kesetaraan (equality) mengemuka di masa peralihan menuju masa pembaharuan (renaissance) pada sektor-sektor kehidupan. Keragaman (diversity) yang tampak dalam kehidupan masyarakat sehari-hari menjadi bagian yang tak terpisahkan dan merupakan isu penting menjelang masa renaissance tersebut.

Sejarah Psikologi Lintas Budaya

Pada masa “European Enlightenment” atau era pencerahan bangsa Eropa di abad 17 hingga ke 19, sebagai kelanjutan masa renaissance, perkembangan peradaban manusia mulai berubah kearah yang lebih luhur dan manusiawi dalam menempatkan posisi serta harkat manusia dalam kehidupannya (from savage to the civilized state of human life). Kajian mengenai perilaku manusia antar budaya menjadi ilmu yang berkembang sejak masa itu.

Berbeda dengan Psikologi Budaya, Psikologi Lintas Budaya membandingkan antar budaya, apakah sebuah teori atau dalil psikologi berlaku sama di berbagai budaya yang bermacam jenisnya.

Misalnya, aapakah tingkat-tingkat perkembangan kognitif dari Piaget atau perkembangan moral dari Kohlberg berlaku secara universal. Munculnya sudut pandang tersebut menjadikan perkembangan psikologi lintas budaya semakin marak.

Sejarah Psikologi Lintas Budaya di Indonesia

Perkembangan psikologi lintas budaya di Indonesia dimulai pada sekitar pertengahan tahun 1980an yang ditandai dengan munculnya penelitian disertasi tentang stereotip etnik di dalam budaya-budaya kelompok etnik di Indonesia oleh Prof. Dr. Soewarsih Warnaen.

Kepeloporan pengembangan psikologi lintas budaya Prof. Dr. Soewarsih Warnaen dalam bidang psikologi lintas budaya dilanjutkan dalam pengajaran matakuliah psikologi lintas budaya pada program S2 Psikologi Sosial di Universitas Indonesia sejak akhir tahun 1980an.

Perkembangan teori dan hasil penelitian psikologi lintas budaya ternyata memberi implikasi yang cukup penting dalam perkembangan ilmu psikologi di abad 21.

Implikasi itu terutama memberi pengaruh kepada eksistensi psikologi aliran utama (mainstream), yaitu psikologi yang berkembang di wilayah geografis dan wilayah kebudayaan Barat dan psikologi yang berkembang di wilayah geografis dan wilayah kebudayaan Amerika Serikat.

Psikologi Lintas Budaya pada akhirnya berkembang pesat di luar Eropa dan Asia pada zaman posmodernisme saat ini.  Banyak orang semakin memahami suatu fakta bahwa banyak teori psikologi Barat ternyata tidak dapat secara semena-mena diberlakukan untuk wilayah geografis dan wilayah kebudayaan yang lain. Oleh karenanya, kajian psikologi lintas budaya menjadi topik menarik yang terus digali hingga saat ini.

Referensi:
  1. Segall, M.H., Dasen, P.R., Berry, J.W., & Poortinga, Y.H. (1999). Human Behavior in Global Perspective : An Intoduction to Cross-Cultural Psychology. New York : Perganon Press.
  2. Hanurawan, F. 2015. Ilmu Psikologi Untuk Pemecahan Masalah-Masalah Kemanusiaan. Pidato Pengukuhan Guru Besar dalam Bidang Ilmu Psikologi pada Fakultas Pendidikan Psikologi disampaikan pada Sidang Terbuka Senat Universitas Negeri Malang. 10 Desember.
  3. Matsumoto, David. 2008. Pengantar Psikologi Lintas Budaya. Yogyakarta : Pustaka Pelajar.

 

Dengan semakin luas dan banyaknya penerapan ilmu psikologi, maka Psikodemia membantu menyediakan materi yang relevan dengan bidang keilmuan psikologi tersebut.