Diperbarui Pada

Peristiwa Penting dalam Psikologi Klinis

Kategori Psikologi Klinis, Psikologi Umum
peristiwa penting dalam psikologi klinis

Psikodemia.com – Berdasarkan hasil penelaahan bagian sejarah dalam buku-buku teks psikologi klinis, didapatkan beberapa peristiwa penting dalam psikologi klinis yang perlu diketahui dari tahun 1892 – 1989.

Berikut adalah peristiwa penting dalam psikologi klinis yang perlu diketahui

Tahun Peristiwa
1892 American Psychological Association berdiri.
1895 Breuer dan Freud menerbitkan Studies on Hysteria, yang mendeskripsikan tentang transferen dalam hubungan klinis.
1896 Lightner Witmer mendirikan klinik psikologi pertama di University of Pennsylvania.
1905 Tes Intelegensi praktis pertama dibuat oleh Binet dan Simon di Paris.
1908 National Committee for Mental Hygiene didirikan oleh Beers, penulis The Mind That Found Itself.
1909 Healy mendirikan klinik bimbingan anak, Juvenille Psychopatic Institute di Chicago.
1917 Tes Intelegensi US Army Alpha dan Beta dan Personal Data Sheet dari Woodworth (untuk keperibadian) diperkenalkan.
1921 Rorschach menerbitkan tes bercak tintanya dalam Psychodiagnostic, di Swiss.
1924 Mary Cover Jones melaporkan penggunaan awal terapi behavioral– Kasus Peter.
1935 Christiana Morgan dan Henry Murray menerbitkan The Thematic Apperception Test (TAT).
1939 Wechsler menerbitkan Wechsler-Bellevue Intelligence Test dengan norma umur dan deviasi IQ.
1942 Carl Roders merumuskan client-centered therapy di dalam Counseling and Psychotherapy.
1943 Hathaway dan McKinley menerbitkan MMPI (Minnesota Multiphasic Personality Inventory).
1945 Connecticut mengundangkan Undang-Undang sertifikasi yang mengatur penggunaan gelas “Psychologist“.
1946 U.S. Veterans Administration, National Institute Mental Health, dan U.S. Public Health mulai mendukung program doktoral Psikologi Klinis.
1949 Konferensi APA di Boulder menetapkan model ilmuwan-praktisi untuk pendidikan klinis tingkat graduate.
1951 Berkembang Client Center Therapy dari Rogers.
1952 American Psychiatric Association menerbitkan Diagnostic and Statictical Manual of  Mental Disorders.
1953 Muncul penerapan prinsip-prinsip operan dalam terapi (Skinner).
1958 Intervensi desensitisasi sitematik digunakan dalam terapi (Wolpe).
1965 Konferensi Swampscott, MA,  memprakarsai psikologi komunitas yang menekankan pada pencegahan.
1973 APA menyelenggarakan Konferensi Vail, yan gmenambahkan model pendidikan profesional pada model Boulder.
1988 Para psikolog menghubungkan pikiran dan perilaku dengan brain imaging.
1989 psikolog menjadi authorized providers dalam program federal Medicare.

Peristiwa Penting dalam Psikologi Klinis di Indonesia

Pada tahun 1956-1960, jurusan psikologi pada fakultas kedokteran UI diresmikan.

ada tahun 1960 psikologi menjadi fakultas yang berdiri sendiri di UI (Somadikarta et. Al. 2000). Kurikulum dan pelaksanaan program study psikologi dimulai sebelum tahun 1960, dibina oleh para pakar yang mendapat pendidikan Doktor (S3) dan Doploma dari negeri Belanda dan Jerman.

Liepokliem mendirikan bagian klinis dan psikoterapi bertempat di barak I RSUP (RSCM). Setelah kepergian Liepokliem ke Australia, bagian psikologi klinis dan psikoterapi berganti nama menjadi bagian psikologi klinis dan konseling dipimpin oleh Yap Kie Hien (1960-1969). Namun dengan adanya pengertian yang luas tentang psikologi klinis, maka nama bagian psikologi klinis-konseling berganti lagi menjadi bagian psikologi klinis.

Hingga saat ini, untuk mendapatkan gelar Psikolog Klinis yang dapat melakukan praktik psikologi, individu harus menempuh pendidikan S1 Psikologi dan meneruskan S2 Profesi Psikologi Klinis.

Sejak tahun 1992, pendidikan akademik dan pendidikan profesi psikolog dipisahkan. Hal ini untuk memungkinkan sarjana psikologi dapat meneruskan ke bidang lain yang mereka minati.

Mulai tahun 1994, psikolog yang berpraktik diwajibkan memiliki Izin Praktik Psikolog. Maksudnya psikolog yang berparaktik adalah psikolog yang memberikan konsultasi psikologi, melakukan asesmen atau psikodiagnostik, dan melakukan konseling dan terapi. Izin ini diperoleh setelah mereka memperoleh rekomendasi dari organisasi profesi Himpsi (Hipunan Psikologi Indonesia), dulu Ikatan Sarjana Psikologi.

Pada tahun 2002, juga disepakati bahwa prasyarat bagi pendidikan profesi psikolog – agar dapat melakukan praktik psikologi – adalah tingkat S2. Namun hal ini baru diberlakukan di UI saja. Forum ini terdiri dari dekan-dekan Fakultas Psikologi – yang kini mencapai 20 Fakultas Psikologi negeri dan swasta – dan organisasi Himpsi.

Hingga saat ini, untuk mendapatkan gelar Psikolog Klinis yang dapat melakukan praktik psikologi, individu harus menempuh pendidikan S1 Psikologi dan meneruskan S2 Profesi Psikologi Klinis.

Referensi:
  1. Sundarberg, Norman, dkk. 2007. Psikologi Klinis. Jakarta : Pustaka Pelajar.
  2. Suprapti Slamet & Sumarmo Markam. 2003. Pengantar Psikologi Klinis. Jakarta : UI Press.
  3. Sutardjo A. Wiramihardja, 2007. Pengantar Psikologi Klinis. Bandung : PT Refika Aditama.
Dengan semakin luas dan banyaknya penerapan ilmu psikologi, maka Psikodemia membantu menyediakan materi yang relevan dengan bidang keilmuan psikologi tersebut.