Diperbarui Pada

Metode Penelitian Dalam Psikologi Lintas Budaya

Kategori Psikologi Lintas Budaya, Psikologi Umum
metode penelitian dalam psikologi lintas budaya

Psikodemia.com – Metode penelitian dalam psikologi lintas budaya; Berbagai macam budaya dalam masyarakat menjadikan bahan kajian penelitian psikologi lintas budaya menjadi sangat beragam. Penelitian lintas budaya perlu didasarkan pada sudut pandang (point of view) yang benar untuk menghasilkan penelitian yang tepat sasaran.

Metode penelitian dalam lintas budaya memiliki beberapa tujuan, yaitu:

  1. Mendeskripsikan fenomena
  2. Memberikan penjelasan atas deskripsi fenomena yang dihasilkan dengan menginterpretasikan data.
  3. Prediksi ke depan atas data-data yang dimiliki peneliti hingga muncul saran.

Metode Penelitian dalam Psikologi Lintas Budaya

Dari beragam metode penelitian dalam psikologi lintas budaya baik secara kuantitatif maupun kualitatif, berikut adalah metode penelitian dalam psikologi lintas budaya yang paling lazim digunakan :

Etnografi

Etnografi adalah penelitian yang dilakukan untuk mendeskripsikan kebudayaan sebagaimana adanya. Model ini berupaya mempelajari peristiwa kultural yang menyajikan pandangan hidup subyek sebagai obyek studi. Studi ini terkait dengan bagaimana subyek berpikir, hidup, dan berperilaku.

Penelitian etnografi merupakan kegiatan pengumpulan data yang dilakukan secara sistematik mengenai cara hidup serta berbagai aktivitas sosial, peristiwa dan kejadian unik dan berbagai benda kebudayaan dari suatu masyarakat.

Ciri-ciri lainnya dari penelitian etnografi adalah:

  1. Sumber data bersifat ilmiah, artinya peneliti harus memahami gejala empirik (kenyataan) dalam kehidupan sehari-hari;
  2. Peneliti sendiri merupakan instrumen yang paling penting dalam pengumpulan data;
  3. Bersifat deskriptif, artinya, mencatat secara teliti fenomena budaya yang dilihat, dibaca, lewat apa pun termasuk dokumen resmi, kemudian mengkombinasikan, mengabstrakkan, dan menarik kesimpulan;
  4. Digunakan untuk memahami bentuk-bentuk tertentu (shaping), atau studi kasus;
  5. Di lapangan, peneliti harus berperilaku seperti masyarakat yang ditelitinya;
  6. Kebenaran data harus dicek dengan dengan data lain (data lisan dicek dengan data tulis);
  7. Orang yang dijadikan subyek penelitian disebut partisipan, konsultan, serta teman sejawat
  8. Titik berat perhatian harus pada pandangan emik, artinya, peneliti harus menaruh perhatian pada masalah penting yang diteliti dari orang yang diteliti, dan bukan dari etik.

Etnografi memberi perhatian pada hakikat kebudayaan sebagai pengetahuan yang diperoleh, yang digunakan orang untuk menginterpretasikan pengalaman dan melahirkan tingkah laku sosial. Etnografi mengungkap seluruh tingkah laku sosial budaya melalui deskripsi yang holistik.

Kajian Folklore

Folklor adalah salah satu bentuk tradisi rakyat dalam kolektif kebudayaan. Dalam kaitannya dengan budaya, folklor memiliki beragam bentuk, misalnya, folklor terdiri dari budaya material, organisasi politik, kepercayaan rakyat, ilmu rakyat, puisi rakyat, adat, takhayul, teka-teki, mitos, magi, ilmu gaib dan sebagainya.

Tahap-tahap penelitian folklor, yaitu: pengumpulan data, pengklasifikasian, dan penganalisisan. Topik penelitian yang sangat erat dengan tradisi, maka hubungan antara peneliti dan subjek penelitian sangat penting untuk menentukan keberhasilan penelitian. Jika hubungan terkesan kaku dan kurang terbuka, berarti ada tanda-tanda bahwa penelitian kurang berhasil.

Etnometodologi

Etnometodologi merupakan cara pandang kajian sosial budaya masyarakat sebagaimana adanya yang mengungkap budaya dalam konteks interaksi sosial. Dasar filosofi metode penelitian ini adalah fenomenologi, yang memandang “pengertian dan penjelasan dari suatu realitas harus dibuahkan dari gejala realitas  itu sendiri”.

Etnometodologi menitikberatkan bagaimana pendukung budaya memandang, menjelaskan, dan menggambarkan tata hidup mereka sendiri. Penelitian diarahkan untuk mengungkap bagaimana seorang individu maupun kelompok memahami kehidupannya. Subjek penelitian tak harus masyarakat terasing, melainkan masyarakat yang ada di sekitar kita.

Etnometodologi termasuk kajian yang berlandaskan pada postpositivistik. Paradigma yang dibangun oleh paham ini senada dengan etnosains yang berusaha mendeskripsikan budaya, tradisi, keyakinan, masyarakat itu sendiri. Kesadaran pemilik budaya tentang miliknya menjadi pangkal tolak etnosains.

Etnosains

Etnosains dalam konteks kajian lintas budayamerupakan ilmu yang mempelajari atau mengkaji sistem pengetahuan dan tipe-tipe kognitif budaya tertentu.

Penelitian etnosains terhadap fenomena budaya berpusat pada pemilik budaya. Dengan demikian, budaya tidak lagi dipandang dari aspek peneliti, melainkan berlandaskan pengalaman empiris pemilik. Budaya diangkat berdasarkan pendapat dari pemilik budaya, tanpa campur tangan peneliti yang berarti.

Pengumpulan data dalam etnisains tidak berbeda dengan penelitian etnografi, yaitu dengan menggunakan pengamatan dan wawancara. Setelah data terkumpul, pengklasifikasian atau kategorisasi dapat dilakukan oleh peneliti. Kategorisasi tersebut sebaiknya ditunjukkan kepada informan, dan kalau mungkin informan boleh ikut mengklasifikasikan sendiri. Justru klasifikasi informan ini yang lebih asli, dibanding peneliti.

Interaksionisme Simbolik

Interaksionisme Simbolik adalah salah satu model penelitian budaya yang berusaha mengungkap realitas perilaku manusia. Perspektif interaksi simbolik berusaha memahami budaya lewat perilaku manusia yang terpantul dalam komunikasi. Interaksi simbolik lebih menekankan pada makna interaksi budaya melalui komunikasi budaya antar warga setempat. Pada saat berkomunikasi manusia banyak menampilkan simbol yang bermakna, dan tugas peneliti adalah menemukan makna tersebut.

Peneliti berusaha merekonstruksi realitas budaya yang terjadi melalui interaksi antar anggota komunitas. Pada saat interaksi itu terjadi, peneliti bisa melakukan umpan balik berupa pertanyaan-pertanyaan yang saling menunjang. Melalui interaksi seseorang dengan orang lain, akan terbentuk pengertian yang utuh.

Grounded Theory

Grounded theory termasuk ragam atau model penelitian dasar yang ingin mencari rumusan teori budaya berdasarkan data empirik. Dasar pemikiran model ini adalah simpulan secara induktif yang digunakan untuk sebuah teori. Dalam kaitannya dengan budaya, grounded theory merumuskan teori-teori baru tentang budaya atas dasar data berbentuk kenyataan, teori tersebut akan lebih mengakar pada budaya yang bersangkutan, karena lahir dari kebudayaan tersebut.

Penelitian budaya melalui grounded theory menghimpun data untuk menciptakan teori. Jika ada hipotesis, bukan seperti hipotesis positivisme rasionalistik yang menghendaki pembuktian, melainkan lebih mengembangkan hipotesis. Makna boleh berubah dan berkembang berdasarkan data di lapangan. Dengan demikian, akan ditemukan teori yang hakiki, sejalan dengan perkembangan budaya, dan sesuai dengan kondisi setempat.

Dan karena penemuan teori tersebut didasarkan pada data, bukan dari simpulan deduktif logik, kemungkinan bagi ilmu untuk berkembang secara progresif menjadi besar. Grounded theory bertujuan untuk menemukan dan atau tepatnya mengembangkan rumusan teori atau mengembangkan konseptualisiasi teoritik berdasarkan data-data. Karena itu, pemilihan sampel pada grounded theory mengarah pada kelompok atau subkelompok yang akan memperkaya penemuan ciri-ciri utama. Basis grounded theory adalah analisis kualitatif data lapangan.

Referensi
  1. Matsumoto, D. 2004. Pengantar Psikologi Lintas Budaya. Yogyakarta: Pustaka Pelajar
  2. Yuniardi, S & Dayakisni T. 2008. Edisi Revisi Psikologi Lintas Budaya. Malang: UMM PRESS
  3. Shiraev, Eric B.& Levy, David A.2012. Psikologi Lintas Budaya: pemikiran kritis dan terapan modern. Jakarta: Kencana Prenada Media Group
  4. Parlindungan, P. 2009. Penelitian Lintas Budaya. www.parlindunganpardede.com
  5. Poerwanto, Heri. 2002. “Analisis Komparasi Lintas Budaya”. Dipublikasikan dalam Jurnal Humaniora Vol.XIV, No.1 2002.
Dengan semakin luas dan banyaknya penerapan ilmu psikologi, maka Psikodemia membantu menyediakan materi yang relevan dengan bidang keilmuan psikologi tersebut.