Diperbarui Pada

Kecemasan Dalam Psikologi Olahraga

Kategori Psikologi Olahraga
Kecemasan Dalam Psikologi Olahraga:

Psikodemia.com – Kecemasan Dalam Psikologi Olahraga: Kita semua tentu pernah merasa takut atau cemas dalam berbagai situasi. Takut dimarahi, takut tidak lulus, takut tidak puas, takut kalah, dan sebagainya. Demikian pula Atlet, mereka dapat merasakan kecemasan.

Dalam menghadapi pertandingan, wajar saja kalau atlet menjadi tegang, bimbang, takut, cemas, terutama kalau menghadapi lawan yang lebih kuat atau seimbang.

Ketakutan pada Atlet pada umumnya dapat diklasifikasikan dalam beberapa kategori (Cratty, 1973):

  1. Takut gagal dalam pertandingan.
  2. Takut akan akibat sosial atas mutu prestasi mereka.
  3. Takut kalau cedera atau mencederai lawan.
  4. Takut fisiknya tidak akan mampu menyelesaikan tugasnya atau pertandingan dengan baik.
  5. Takut akan kemenangan.
Hasil-hasil penelitian psikologi cenderung menunjukkan bahwa atlet paling takut pada akibat sosial yang akan mereka peroleh atas mutu prestasi mereka.

Misalnya takut gagal memenuhi harapan pelatih, induk organisasi olahraga, pemerintah, takut dicemooh, dikritik, atau dikecam masyarakat.

Atlet dan kecemasan dalam Psikologi Olahraga

Kecemasan yang dialami Atlet, seringkali disebabkan oleh stres yang berkepanjangan. Padahal suasana stres dapat membuat seseorang hidup penuh gairah, karena dapat mengatasi suasana penuh stres dapat menimbulkan kepuasan dan kebanggaan pada diri seseorang.

Dalam pembinaan atlet, kemampuan mengelola stres akan menjauhkan kemungkinan atlet mengalami kecemasan.

Stres yang berlangsung terus-menerus dapat menimbulkan kecemasan, karena itu tingkat ketegangan yang dapat menimbulkan stres harus selalu dimonitor terus menerus.

Selain itu, berat ringannya ketegangan yang dapat ditanggung oleh atlet, khususnya atlet junior, juga harus selalu diperhatikan.

Manajemen kecemasan untuk Atlet

Kecemasan dapat didefinisikan sebagai perasaan subyektif berdasarkan ketakutan dan meningkatnya “physiological arousal” (Levitt, 1980).

Kecemasan adalah suatu perasaan tak berdaya, perasaan tak aman, tanpa sebab yang jelas.

Perasaan cemas dapat terjadi pada atlet pada waktu menghadapi keadaan tertentu, misalnya dalam menghadapi kompetisi yang memakan waktu panjang dan ternyata atlet tersebut mengalami kekalahan terus-menerus.

Rasa cemas yang terjadi pada suatu keadaan tertentu disebut “State Anxiety“.

Menurut Spielberger (1985) “state anxiety” adalah keadaan emosional yang terjadi mendadak (pada waktu tertentu) yang ditandai dengan kecemasan, takut, dan ketegangan; biasanya diikuti dengan perasaan cemas yang mendalam disertai ketegangan dan “physiological arousal“.

Apabila kecemasan yang dialami oleh atlet tidak bisa dikelola, yang menyebabkan kegagalan dalam berprestasi, maka dapat memunculkan frustasi.

Frustrasi timbul karena individu merasa gagal tidak dapat mencapai suatu tujuan yang diinginkan, seperti ketika atlet gagal untuk memperoleh kemenangan atau ketika atlet diliputi perasaan gagal.

Kondisi frustasi ini menjadi sebab yang cukup signifikan dalam performa atlet selanjutnya. Karena cukup banyak Atlet yang kemudian kalah, baik dalam suatu pertandingan atau mencapai prestasi selanjutnya, akibat perasaan tersebut.

Oleh karena itu, manajemen diri dan emosi yang baik dalam menghadapi tekanan, adalah solusi yang tepat bagi atlet untuk dapat bangkit dan mengurangi kecemasan.

Referensi:
  1. Komarudin. 2015. Psikologi Olahraga. PT. Remaja Rosdakarya : Jakarta.
  2. Gunarsa, Singgih D. 2008. Psikologi Olahraga Prestasi. PT. BPK Gunung Mulia : Jakarta
Dengan semakin luas dan banyaknya penerapan ilmu psikologi, maka Psikodemia membantu menyediakan materi yang relevan dengan bidang keilmuan psikologi tersebut.