Diperbarui Pada

Kaitan Psikologi Lintas Budaya dengan Kognisi

Kategori Psikologi Lintas Budaya
kaitan psikologi lintas budaya dengan kognisi

Psikodemia.com – Psikologi lintas budaya adalah kajian psikologi mengenai persamaan dan perbedaan dalam fungsi individu secara psikologis, dalam berbagai budaya dan kelompok etnik.

Selain itu, psikologi lintas budaya berkenaan dengan hubungan-hubungan di antara budaya psikologis dan sosio-budaya, ekologis, dan ubahan biologis serta mengenai perubahan-perubahan yang berlangsung dalam budaya-budaya tersebut.

Kaitan Psikologi Lintas Budaya dengan Kognisi

Kognisi adalah istilah umum yang mencakup seluruh proses mental yang mengubah masukan-masukan dari indera menjadi pengetahuan (Matsumoto, 2008). Proses dasar kognisi ialah pemberian kategori pada setiap benda atau obyek atas dasar persamaan dan perbedaan karakternya. Proses-proses mental dari kognisi mencakup persepsi, pemikiran rasional, dan seterusnya.

Ada beberapa aspek kognisi, yaitu kategorisasi (pengelompokkan), memori (ingatan) dan pemecahan masalah (problem solving).

Budaya dalam Kategorisasi

Salah satu proses dasar kognisi adalah cara bagaimana orang melakukan kategorisasi. Kategorisasi dilakukan umumnya atas dasar  persamaan dan perbedaan karakter dari obyek – obyek dimaksud. Selain itu fungsi dari obyek juga merupakan deterministik utama dari proses kategorisasi.

Misal, ketika kita melakukan kategorisasi mengenai warna. Semua budaya tetap mampu melakukan penggolongan warna- warna yanh masuk dalam warna primer, namun tidak untuk warna sekunder.  Seorang Eskimo mampu membedakan gradasi warna es (warna putih bercampur warna lain) dengan namanya masing-masing, namun tidak bagi individu yang tinggal di gurun pasir.

Orang dengan latar budaya manapun juga cenderung melakukan kategorisasi bentuk benda (shapes) dalam kerangka bentuk – bentuk dasarnya, semacam, segitiga sama sisi, lingkaran, dan segi empat. Penemuan dalam lintas budaya ini membuktikan bagaimana faktor psikologis mempengaruhi pada bagaimana manusia melakukan kategorisasi stimulus dasar tertentu, dalam hal ini yang sudah terungkap adalah dalam bentuk, warna, dan ekspresi muka (Berry, 1999).

Perbedaan Budaya dalam Memori

Dengan memiliki memori, manusia bisa mengingat pengetahuan yang telah diperolehnya sehingga bisa membangun peradabannya. Memori sendiri adalah sebuah proses pengelolahan informasi dalam kognitif yang meliputi pengkodean (encoding), penyimpangan (strore), dan pemanggilan kembali (retrieve) informasi. Berdasar jangka waktunya, memori dibedakan atas memori jangka pendek yaitu memori yang menyimpan informasi relative permanen meskipun kadang ada kesulitan dalam memanggil kembali.

Masalah memori ini menjadi menantang ketika dikaitkan dengan perbedaan budaya. Ross dan Millison (1970, dalam Matsumoto, 1996) menduga bahwa tradisi oral membuat orang lebih baik dalam kemampuan daya ingat. Mereka mendapatkan kesimpulan ini berdasarkan hasil penelitiannya yang membandingkan daya ingat pelajar Amerika dengan menemukan bahwa secara umum remaja Ghania mengingat isi cerita lebih baik daripada pelajar Amerika. Namun Cole (1971, dalam Matsumoto, 1996) menemukan bahwa sekalipun masyarakat non-literate mengingat isi cerita lebih baik namun mereka memiliki kemampuan yang lebih lemah dalam mengingat daftar kata.

Scribner (1974, dalam Matsumoto, 1996) melakukan penelitian pada subyek Afrika antara kelompok yang berpendidikan dengan kelompok yang tidak pernah mendapat pendidikan. Hasilnya ternyata sangat mendukung penelitian Cole, yaitu bahwa kelompok Afrika yang mendapat pendidikan mempunyai kemampuan mengingat informasi acak sama baiknya dengan kelompok responden Amerika. Sebaiknya kemampuan kelompok responden Arfika yang tidak pernah mendapat pendidikan ternyata lebih rendah.

Budaya dan Pemecahan masalah

Problem solving merupakan suatu proses dalam usaha menemukan urutan yang benar dari alternatif – alternatif jawaban suatu masalah dengan mengarah pada satu sasaran atau kea rah pemecahan yang ideal. Kemampuan ini sangat tekait dengan faktor pendidikan dan pengalaman termasuk pengalaman dengan lingkungan budaya tentunya.

Salah satu penelitian yang mencoba memahami perbedaan problem solving dalam lintas budaya adalah yang dilakukan Cole (1971) yaitu tentang memecahkan masalah dalam membuka kotak/box antara responden Amerika dan Liberia.

Dari beberapa penelitian yang dilakukan, didapatkan hasil bahwa kemampuan orang Liberia untuk berpikir logis guna memecahkan suatu masalah sangat tergantung konteks. Ketika masalah yang disajikan menggunakan material dan konsep yang sudah mereka kenal, orang – orang Liberia berpikir logis sama baiknya dengan orang – orang Amerika.

Sebaliknya ketika masalah yang disajikan kurang mereka kenal, mereka tampak mengalami kesulitan dari mana memulai langkah pemecahan masalah. Namun tidak dapat ditarik kesimpulan bahwa orang Liberia memiliki kemampuan problem solving yang lebih rendah dibandingkan dengan orang Amerika.

Referensi:
  1. Berry,J. W. Ype H. Poortinga., Marshall H. Segall., & Pierre R. Dasen. 1990. Psikologi Lintas Budaya: Riset dan Aplikasi. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama.
  2. Sarloto W. Sarwono. 2014. Psikologi Lintas Budaya . Jakarta : PT Raja Grafindo Persada.
  3. Matsumoto, D. 2004. Pengantar Psikologi Lintas Budaya. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
  4. Yuniardi, S & Dayakisni T. 2008. Edisi Revisi Psikologi Lintas Budaya. Malang: UMM PRESS.

 

Dengan semakin luas dan banyaknya penerapan ilmu psikologi, maka Psikodemia membantu menyediakan materi yang relevan dengan bidang keilmuan psikologi tersebut.