Diperbarui Pada

Emosi dalam Psikologi Lintas Budaya

Kategori Psikologi Lintas Budaya, Psikologi Umum
emosi dalam psikologi lintas budaya

Psikodemia.com – Emosi menjadi kajian yang menarik dalam psikologi, selain kognisi dan perilaku.  Ada dua hal yang biasanya terlintas bila berbicara tentang emosi dalam psikologi lintas budaya, yaitu:

  1. Pengalaman emosional, yakni kondisi subyektif, perasaan dalam diri kita.
  2. Ekspresi kita atas emosi melalui suara, wajah, bahasa, atau sikap tubuh (gesture).

Emosi dipengaruhi oleh budaya. Persepsi individu terhadap emosi, menentukan tingkah lakunya sehingga budaya berperan dalam pengalaman dan ekspresi individu atas emosi yang dirasakan. Penelitian menjadi salah satu cara menjawab bagaimana emosi dalam konteks lintas budaya.

Penelitian Emosi dalam Psikologi Lintas Budaya

Ada beberapa perbedaan penting antara penelitian psikologis tentang emosi lintas-budaya dengan kajian antropologis dan etnografis. Perbedaan yang penting adalah ahli psikologi biasanya mendefinisikan terlebih dahulu aspek dari emosi yang akan dikaji. Sebagai contoh apabil ahendak mengkaji bahagia, maka diasumsikan bahwa dalam setiap budaya yang hendak dikaji, bahagia merupakan suatu emosi, dan bahwa aspek ekspresif dan emosi itu setara di semua budaya .

Perbedaan-perbedaan kultural dalam konsep dan definisi emosi, menjadi model hambatan bagi penelitian psikologi lintas budaya. Dalam meneliti marah, misalnya saja, sangat mungkin bahwa budaya-budaya yang di teliti memiliki definisi yang berbeda tentang marah, atau mengekspresikan marah secara berbeda. Ekspresi marah juga bisa memiliki makna yang berbeda untuk setiap budaya.

Pengalaman Emosi dalam Psikologi Lintas Budaya

Dalam beberapa tahun terakhir, beberapa program penelitian mulai mempelajari bagaimana orang-orang dari berbagai budaya mengalami emosi secara berbeda-beda. Penelitian-penelitian tersebut, secara keseluruhan, melibatkan ribuan responden dari lebih dari 30 budaya di seluruh dunia, yang mengisi kuesioner tentang emosi yang mereka alami di kehidupan sehari-hari mereka secara kolektif.

Temuan dari penelitian-penelitian ini menujukan bahwa kebudayaan memiliki pengaruh yang besar pada bagaimana orang mengalami emosi. Salah satu dari penelitian tersebut menguji perbedaan antara orang Eropa, Amerika, dan Jepang mengenai frekuensi kemunculan emosi.

Meskipun peneliti menduga bahwa orang dari berbagai penjuru dunia ini mengalami emosi dalam frekuensi yang kurang lebih sama, data yang didapat mengatakan sebaliknya. Orang Jepang melaporkan bahwa mereka mengalami semua emosi-termasuk senang, sedih, takut dan marah, lebih sering ketimbang orang Amerika atau Eropa. Orang Amerika melaporkan lebih sering mengalami senang dan marah dibanding orang Eropa.

Ekspresi Emosi dalam Psikologi Lintas Budaya

Ekspresi wajah dari emosi merupakan aspek ekspresi emosi yang paling banyak dikaji, dan penelitian lintas-budaya mengenai ekspresi wajah inilah yang menjadi pendorong utama kajian-kajian emosi di psikologi Amerika.

Ekman dan Izard mendapatkan bukti pertama yang sistematis dan konklusif tentang keuniversalan ekspresi anger (marah), disgust (jijik), fear (takut), happiness (senang), sadness (sedih) dan surprise (terkejut). Keuniversalan ini berarti bahwa konfigurasi mimik muka masing-masing emosi-emosi tersebut secara biologis bersifat bawaan atau innate, yaitu serupa untuk semua orang dari budaya atau etnisitas.

Siapa pun, dari budaya mana saja, yang mengalami salah satu dari emosi ini seharusnya mengekspresikan secara sama persis. Aturan ini pada intinya mengatur kecocokan kapan ditampilkanya masing-masing emosi tersebut, tergantung pada situasi sosial, atau yang biasa disebut sebagai aturan ungkapan cultural (cultural display rules) (Ekman,1972).

Siapa pun, dari budaya mana saja, yang mengalami emosi anger (marah), disgust (jijik), fear (takut), happiness (senang), sadness (sedih) dan surprise (terkejut) seharusnya dapat mengekspresikannya secara sama persis.

Meskipun ekspresi wajah universal itu secara biologis bersifat bawaan sebagai prototype raut wajah pada semua orang, budaya punya pengaruh besar pada ekspresi emosi lewat aturan-aturan pengungkapan yang di pelajari secara kultural karena kebanyakan interaksi antar-manusia pada hakekatnya bersifat sosial.

Orang-orang dari latar belakang budaya yang berbeda dapat, dan memang, mengekspresikan emosi secara berbeda. Budaya juga mempengaruhi pelabelan emosi. Meski biasanya ada kesepakatan antar budaya dalam hal emosi apa yang ditampilkan oleh suatu ekspresi wajah, namun ada tetap ada variasi dalam kesepakatan tersebut.

Sebagai contoh, meskipun sebagian besar subjek dari Indonesia, Jepang, Brazil dan Amerika sepakat bahwa suatu ekspresi wajah menunjukan emosi tertentu (seperti emosi takut), tetap ada perbedaan di tiap budaya dalam dalam hal berapa banyak subjek yang sepakat bahwa ekspresi tersebut menunjukan emosi takut (misalnya, 90% subjek di Amerika, Brazil dan Perancis melabeli ekspresi itu sebagai emosi takut, namun hanya 70% subjek di Jepang dan Indonesia yang menyepakati hal itu). Jenis perbedaan kultural dalam pelabelan emosi inilah yang ditemukan dalam dua penelitian yang lebih baru (Matsumoto,1989,1992).

Cara Budaya Mempengaruhi Persepsi dan Interpretasi Emosi?

Beberapa ahli psikologi percaya budaya bahwa memiliki aturan yang mengatur persepsi emosi, seperti halnya aturan pengungkapan yang mengatur ekspresinya.aturan tentang interpretasi dan persepsi ini disebut aturan dekode (decoding rules) (Buck,1984). Aturan ini adalah aturan cultural, sesuatu yang dipelajari, yang membentuk bagaimana orang di suatu budaya memandang dan menginterpretasi ekspresi-ekspresi emosi orang lain.

Seperti aturan pengungkapan, aturan dekode di pelajari pada masa-masa awal kehidupan, dan di pelajari sedemikian baik sehingga kita tidak benar-benar menyadari pengaruhnya. Dengan demikian, aturan dekode adalah seperti saringan budaya yang mempengaruhi bagaimana kita menangkap ekspresi orang lain.

Referensi:
  1. Berry,J. W. Ype H. Poortinga., Marshall H. Segall., & Pierre R. Dasen. 1990. Psikologi Lintas Budaya: Riset dan Aplikasi. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama.
  2. Sarlito W. Sarwono. 2014. Psikologi Lintas Budaya . Jakarta : PT Raja Grafindo Persada.
  3. Matsumoto, D. 2004. Pengantar Psikologi Lintas Budaya. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
  4. Yuniardi, S & Dayakisni T. 2008. Edisi Revisi Psikologi Lintas Budaya. Malang: UMM PRESS.
Dengan semakin luas dan banyaknya penerapan ilmu psikologi, maka Psikodemia membantu menyediakan materi yang relevan dengan bidang keilmuan psikologi tersebut.